Petani Garam Bangkalan Merugi, Pemerintah Memilih Garam Impor Ketimbang Garam Lokal | jurnalmadura.com
jurnalmadura.com
NEWS TICKER

Petani Garam Bangkalan Merugi, Pemerintah Memilih Garam Impor Ketimbang Garam Lokal

Sabtu, 8 Februari 2020 | 7:28 pm
Reporter : jurnalmadura
Dibaca: 187

BANGKALAN – Petani garam yang ada di kabupaten Bangkalan mengeluhkan harga garam yang sangat rendah. Hal ini terjadi dikarenakan adanya garam impor sehingga garam lokal tidak dilirik perusahaan. Lahan petani garam yang awalnya 750 hektar yang masih produktif, kini menjadi 193 hektar yang masih berpotensi.

Seorang petani garam Abdul Kamrim asal desa Tajungan Kecamatan Kamal Kabupaten Bangkalan mengaku sudah angkat tangan terhadap turunnya harga garam yang sampai saat belum mengalami kenaikan

“Kami sudah angkat tangan mengenai hal ini, harga garam sangat rendah sehingga penghasilan sangat minim dan kalaupun ada bantuan itu tidak mengubah apapun karena harga tidak kunjung stabil satu-satunya cara yakni kita harus pindah haluan” ucap Kamrim saat ditemui pewarta, Jumat ( 07/02/2020)

Kamrim yang juga sesepuh para petani garam di desanya juga mengeluh bahwa terkadang walaupun petani dikampungnya sudah panen namun perusahaan enggan mengambil atau membeli garam hasil produksinya.

Baca Juga:  Beberapa Koperasi Di Sumenep Terancam Dibubarkan, Ini Penyebabnya !!!

“Kami memproduksi mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, jika hasil panennya tidak mereka beli lalu dengan apa kami menutupi kebutuhan hidup keluarga, selain itu kami juga rugi” keluhnya.

Sementara kepala dinas Kelautan dan Perikanan Muhammad Zaini mengungkapkan bahwa pihaknya tetep mengoptimalkan, membantu petani garam agar para petani tetap menekuni mata pencahariannya sembari menunggu jalan keluar.

“Kami telah memberikan bantuan dalam hal apapun, kita juga memberikan semangat sembari menunggu agar pemerintah pusat mengubah kebijakan baru yang lebih memihak pada petani lokal” ujarnya.

Zaini juga menambahkan pihaknya sudah menghimbau agar petani jangan berpindah mata pencaharian.

“Saya sudah himbau agar jangan terlalu banyak berbunyi nanti takutnya berdampak ke banyak hal, nanti kalau produksi garam dikuasai asing bagaimana padahal kan selama ini madura adalah produsen utamanya. Saya juga berharap semoga pemerintak menemukan jalan keluar agar para petani garam tidak merasa tercekik” jelasnya.

Reporter: Fara
Editor: Mahallil

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Name *

VelocityDeveloper.com Copyright 2017 ©. All Rights Reserved.