jurnalmadura.com
NEWS TICKER

Gelar KKN Internasional, 10 Mahasiswa STKIP Bangkalan Mengabdi di Kuala Lumpur

Selasa, 5 Maret 2024 | 8:05 am
Reporter:
Posted by: mjawarai mjawarai
Dibaca: 473

BANGKALAN, jurnalmadura.com – Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Bangkalan, kirim 10 mahasiswanya untuk pengabdian di Kuala Lumpur Malaysia.

Mereka, menjalani kuliah kerja nyata (KKN) internasional selama 1 bulan bersama sejumlah mahasiswa dari perguruan tinggi asal Indonesia di pelosok Kuala Lumpur.

Ketua STKIP PGRI Bangkalan Fajar Hidayatullah mengungkapkan, tujuan dilaksanakannya program KKN internasional itu adalah untuk menyiapkan mahasiswa agar menjadi masyarakat yang baik, yang siap berinteraksi dengan masyarakat secara global.

“Karena ini masih awal, mereka masih belajar di wilayah ASEAN saja. Namun ini harapan kami agar mereka terbiasa berinteraksi secara internasional,” ujarnya, Senin (04/03/2024).

Menurutnya, program KKN internasional itu penting dilakukan agar mahasiswa bisa mempraktikkan kemampuan yang dimiliki dan mengaplikasikan ditengah masyarakat.

 

Program tersebut kali pertama dilakukan, mahasiswa yang diberangkatkan juga masih terbatas. Sehingga, dilakukan seleksi dan pembekalan beberapa minggu sebelum diberangkatkan.

“Ini KKN internasional pertama di STKIP, ada 10 orang yang kami berangkatkan dan 10 orang itu ditempatkan di tempat yang berbeda-beda. Insyaallah Agustus nanti, kami berangkatkan mahasiswa lagi ke sana tapi dalam bentuk PPL,” jelasnya.

Sementara itu, salah satu mahasiswa KKN Internasional STKIP Bangkalan, Wahyu Tirta Sari merasa beruntung karena menjadi salah satu mahasiswa yang bisa merasakan dan melakukan pengabdian masyarakat di luar negeri.

“Alhamdulillah saya sangat bersyukur, karena sebenarnya saya memang ingin kuliah di luar negeri, dan dengan KKN internasional ini keinginan itu bisa terwujud, meskipun hanya sebentar,” katanya.

Dia menceritakan pengalamannya selama pengabdiannya di Malaysia. Menurutnya, hal yang paling berkesan adalah pada saat dia mengajar, dia mengatakan kondisi pembelajaran di sana berbeda dengan di Indonesia.

Sebab lanjut dia, di sana siswa-siswinya masih cenderung acuh terhadap tatakrama, sehingga tantangannya lebih sulit karena juga harus memberikan pendidikan karakter kepada para siswanya.

“Kalau disini kan siswanya sudah agak teratur, tapi kalau di sana kita masih juga harus mendidik karakter mereka,” ucapnya.(Redaksi)

VelocityDeveloper.com Copyright 2017 ©. All Rights Reserved.