Begini Keluh Kesah Petani Di Bangkalan Ditengah Wabah Virus Corona | jurnalmadura.com
jurnalmadura.com
NEWS TICKER

Begini Keluh Kesah Petani Di Bangkalan Ditengah Wabah Virus Corona

Minggu, 5 April 2020 | 5:55 pm
Reporter : jurnalmadura
Dibaca: 145

BANGKALAN – Musim panen padi sudah dimulai, ditengah tengah sibuknya serangan covid 19. Masyarakat Klampis, beberapa telah mengumpulkan hasil tanam padinya, Namun petani masih mengeluhkan musim kali ini, hasil panen tetap namun terjadi pembengkakan biaya produksi, mulai dari awal tanam sampai panen.

“Petani keng la cokop gebey ngakan, (cukup buat makan aja),” tutur Muhri (40). Minggu (5/4/2020)

Dari penjelasan pria yg sehari hari berprofesi sebagai petani yg ditemui disawahnya, panen kali ini mendapatkan gabah padi 9 sak isi 50 Kg, namun beras diperoleh separuh dari isi sak(25 Kg), jadi ketika panen 9 sak, 225 Kg Beras yang akan diperoleh petani asal tobaddung ini.

Disaat jurnalis jurnalmadura.com, ingin menanyakan beban biaya produksinya, ” biaya jasa cabut benih (ngajuk dalam bahasa madura), biaya jasa tanam padi, biaya bensin untuk pengairan, biaya jasa panen, dan konsumsi,” katanya.

Menurut pengakuannya, dipetak sawahnya yg kecil, Bapak 2 anak ini membutuhkan kisaran Rp 1 juta lebih. Biaya jasa cabut benih 1 orang dipagi hari Rp 50.000 / orang, sawahnya menggunakan 4 orang, menjadi Rp 200.000. Biaya tanam 4 orang Rp. 200.000. Untuk pengairan sekitar Rp 64.000/8 liter bensin ketika padi sudah ditanam. Pupuk kimia warna merah harga Rp. 2500 dibulatkan menjadi Rp 50.000.

Baca Juga:  Peringati Sumpah Pemuda, BAANAR Pamekasan Bagi-Bagi Sticker

Untuk konsumsi dibulatkan Rp. 100.000 perhari. Biaya ini tidak menggunakan biaya jasa bajak sawah, menggunakan mesin traktor, karena jarak dari rumahnya yang begitu jauh, harus menggunakan jasa angkut kerumahnya Sekitar Rp 200.000.

“Kalau dijual berasnya dengan harga Rp 9000/kg, kita tidak dapat untung,” keluhnya

Musim kali ini, masyarakat mengeluhkan jarangnya hujan, sehingga mereka harus melakukan pengairan sendiri menggunakan mesin Alkon yg mereka punya. Mereka harus bolak balik mengisi air kesawahnya untuk menjaga kelembaban tanahnya.

“Panen dimusim kemarin kita diberikan hujan yg cukup, kalau sekarang kita diberikan kurang hujan, sehingga harus pakek mesin untuk pengairan,”tambahnya

Menurutnya, kalau untuk pertanian padi memang bukan untuk dijual tapi untuk kebutuhan dapur, dan agar sawah tetap bisa produktif.

“Jika petani disini menghitung biaya produksinya,tidak akan mau bertani seperti ini,” tandasnya

Reporter: Sholeh
Editor: Mahallil

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Name *

VelocityDeveloper.com Copyright 2017 ©. All Rights Reserved.