jurnalmadura.com
NEWS TICKER

Produk Batik Lokal Sepi Peminat, Pedagang Pasar Rakyat 17 Agustus Pamekasan Keluhkan Maraknya Produk Luar

Kamis, 30 Januari 2020 | 5:58 pm
Reporter : jurnalmadura
Dibaca: 664
google.com, pub-2033676592392824, DIRECT, f08c47fec0942fa0

PAMEKASAN – Ali Mastur, seorang pedagang batik lokal di Pasar Rakyat 17 Agustus Pamekasan keluhkan maraknya produk luar masuk ke Bumi Gerbang Salam. Sehingga, produk lokal yang dia produksi sampai saat ini sepi peminat.

Menurutnya, semenjak bulan Desember tahun 2019 kemarin, batik lokal yang diproduksinya sampai saat ini mengalami penurunan, bahkan hampir setiap hari para konsumen enggan untuk menawarnya.

“Sepi mas, ya kadang bisa menjual 2-3 per-hari, ya kadang gag ada sama sekali,” tuturnya saat diwawancara oleh Reporter JurnalMadura.com, Kamis (30/01/2020)

Mastur nama sapaannya, mengungkapkan penyebab menurunnya minat pembeli batik lokal di pasar tersebut diindikasikan dengan datangnya produk luar yang semakin hari semakin membludak dan ditambah, minat masyarakat Pamekasan sendiri mulai berkurang.

“Produk luar yang masuk ke Pamekasan seperti Marlena itu mas dan para pejabat juga ikut menggunakan produk luar,” tandasnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, bahwa akibat menurunnya minat konsumen batik lokal di pasar tersebut berdampak terhadap pendapatannya. Sehingga, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, dia harus melakukan pemutaran simpanan yang dimilikinya.

“Kalau sudah sepi seperti ini, untuk kebutuhan sehari-hari kami harus buka simpanan mas,” tandasnya

Sementara itu, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Pamekasan melalui Kepala Bidang (Kabid) Perdagangan, St. Abdiyati Muradi menanggapi mengenai keluhan para pedagang batik lokal di pasar rakyat 17 Agustus Pamekasan.

Baca Juga:  Petani Garam Bangkalan Merugi, Pemerintah Memilih Garam Impor Ketimbang Garam Lokal

Menurutnya, produk batik lokal yang mengalami penurunan konsumen itu tidak benar, karena para konsumen yang mencintai produk lokal bukan hanya masyarakat sekitar (Masyarakat Pamekasan). Akan tetapi, ada pula dari kalangan internasional.

“Kalau menurunnya minat pembeli terhadap batik tulis menurut kami itu tidak benar karena batik tulis Pamekasan semakin banyak diminati oleh pecinta batik atau masyarakat, baik Lokal, Nasional maupun Internasional,” tegasnya saat di konfirmasi melalui via WhatsApp.

Selain itu, tambah Abdiyati nama panggilan akrabnya, bahwa pihaknya telah melakukan investigasi dan sosialisasi kepada para pedagang batik di pasar tersebut.

“Pada bulan Oktober kemarin (2019) kita sudah turun kelapangan mengenai adanya indikasi penjualan batik printing dan cap, kami memang menemukan adanya batik printing dan cap tersebut dan kami sudah mengadakan pembinaan bahwa batik printing itu diharamkan di jual, kalau batik cap masih dimungkinkan ada peluang atau campuran batik tulisnya. Jadi, untuk batik printing saja yang diharamkan,” tuturnya.

Kemudian, dia atas nama Disperindag Pamekasan kedepannya, akan memberikan akses kepada Pedagang batik untuk kemajuan produk batik lokal, baik dalam bentuk binaan maupun pameran.

“Memang nampak dari pemasaran batik ini sangat urgen terhadap peningkatan pertumbuhan ekonomi Kabupaten Pamekasan, kami Disperindag akan selalu ada untuk akses pasar bagi potensi produk unggulan daerah baik dalam bentuk binaan atau pameran-pameran,” jelasnya.

Reporter: Jadid
Editor: Halili

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Name *

VelocityDeveloper.com Copyright 2017 ©. All Rights Reserved.